Falajan.com
Beranda Sastra Dia Nayanika: Serangkai Puisi Agung Putra Usdek

Dia Nayanika: Serangkai Puisi Agung Putra Usdek

Merambahmu

Di selatan,
Terik dan hujan adalah aku
Dingin malam dan kesejukan
Adalah kamu.

Saat sekantong aroma sunyi kau jamu.
Di saat itu,
Kelakar di antara kita menjadi kasih.
Kita bertamu,
Pada rumah yang mempesona.

Di pembuka Januari
Langit malammu menjadi meriah nona, dibakar kembang.
Dan Aku adalah setangkai Gladiola
Yang mekar.

Di jalanan,
Desis angin membahagiakan
Setelah semua menjadi ada,
Beberapa angka kian bermakna
Beberapa tutur kian memaut.

Seperti angin di bibir pantai,
Nona, sampaikan semua mimpi seirama gemuruh ombak.
“Pati ini ingin kau citakan”.
Ketika cerita-cerita terbagi di ujung hari,
Kita berkhayal seperti novelis.

Setelah itu,
Langit yang aku lihat tak lagi sepertimu
Awan hitam menyelimuti penglihatan
Entah apa yang membuat kau ragu
Musim kita pun berganti hujan.

Ingatkah kau
Lagu yang kita nyanyikan di tepi pantai?
Suara itu mengalahkan gemuruh ombak dan desis angin.
Kita ceria
Dan seindah swastamita

Kini musik itu, tak lagi bernyanyi
Aku mencari lagu,
Untuk mengenang dua bangku di rumah itu.
Kutemukan lirik yang merambahmu
“di ini Januari kumandang rindu kepadamu”

 

Dia Nayanika

Di dalam ruang sabda,
Asma Suri kali ini terbingkai di dinding aksara.
Lalu akan ku dongengkan pada orang buta
Bahwa ada hikayat serupa sultanah.

Entah selama apa,
Abdi tak tahu kesilauan ini bertahan hingga di kalimat ke berapa.
Aksara menyusuri ruang-ruang mayanya.
Menemui Rani di tiap coretannya.

Imaji dicemari mesra.
Sungkawa mengambang di bawah atap langit yang kita pandang sesama.
Tak tahu kenapa,
Pati Syahdu ini gemar melihat  lewat rona matamu.

Seakan dapat berkata-rasa
lewat aksara
dan menyentuhmu lewat tatapan saja.

 

Gombalan Sajak

Ku persembahkan setangkai Azalea
Bunga yang memudarkan kusam samsara menjadi asmara.
Ia ada di atas kertas merah muda
Bersama sebuah sajak untuk ku goda.

Sajak itu tentang ketangguhan
Dan kesederhanaanmu.
Juga tuturan tentang pancaran aura indahmu.

Bersama setangkai Azalea..
Aku menulis itu dari matamu;
Dari tawamu, dari senyummu,
Dan dari warna merah jambu lembut di pipimu.

Kelakarku berubah menjadi gemar—itu tak terpinta,
Terai yang mampir, tak sempat aku m e n i l i k.
Tasamuh kini menjadi kaku.
Aku tak menyangka bahwa kau harus ku rayu.

“Bunga Merah muda itu layu di tubuhmu,
ia kering oleh karena keindahanmu”.

 

Sebab Kau Dikara

Tak perlu khawatir,
Aku tak tergesa menyusuri taman renjana perihal hadirmu.
Sebab telah ku teliti pada mawar yang mekar kali ini.
Kau rona dan aroma, terlindungi duri.
Kau rapi dengan wangi yang asli.

Aku sedikit memuji, karena kau rupa Suri Syahdu.
Namun tak usah Suri merasa gemang.
Pasalnya aku tak tergesa melansir rasa.
Ada suka namun tak sampai terbuka.

Gulana tak hampir buas,
melainkan ia memilih bisu.
Tak ada cemburu yg hampir beringas.
Karena arus-harap, telah ku kibas penuh ikhtiar sebelum ia deras.

Tak usah Suri-Rani sampai meremang.
Karena sadar diri telah membelenggu waktu ku.
Penuh insaf memahami, dirimu serupa wanita di balik Al-Marth yg sukar dipandang mata.
Adinda rajin ayunkan selendang di awal waktu.
Sedangku kadang terlelap di kesadaran Subuh.

Dan jika pada seorang pria,
Kau menaruh nilai lebih tinggi di atas Akhlak ?
Maka aku akan pergi,
Bukan aku orangnya.

 

Asmarandana

Awalnya aku pernah pamit dari segala camar.
Namun seekor merpati tak sengaja hinggap di pohon Jatukrama rumahku.
Kelakar itu sudah terlantas menatah lega.

Bersamaan desis angin ia membawa pesan Suri.
Tak ada debu yang mengikuti.
Hanya saja arah terbang kali ini berbeda.

Aku tak pernah menunggu kabar angin dari arah barat.
Meski kelopak bunga Gladiola beterbangan
menebarkan keharuman taman raudah.
Namun Rani tak perlu berlari di dalamnya.

Intinya,
Menatap teduhnya romanmu adalah pertemuan singkat untuk rindu yang berlarut-larut.
Untuk kesekian, pati mengukir Suri dalam goresan sepi.
Selamat abadi dalam aksara yg menjadi prasasti.

 

Singkat

Sedikit indah
Aku menyukai kopi
Kau dengan secangkir Matcha.
Berbeda, namun dalam satu meja.

Sedikit indah
Apa aku terlalu ramah ?
Ataukah kau lumrah berbagi cerita.
Kau bercerita perihal hidupmu,
Sedangku terkesima pada kehidupan di depan mataku.

Sedikit indah
Juga terlalu singkat
Pagi tiba, malam berlalu
Esok kau sudah di antara mentari
Beranjak dari meja kita.

Sedikit indah…

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan